Sabtu, 21 Juli 2012

PEMURAH PENYAYANG


Ketika malam tiba, Allah menciptakan suasana tenang dan gelap karena matahari telah tenggelam beberapa waktu. Pada saatnya kita merasakan datangnya kantuk dan waktu istirahatpun dijalaninya. Kita mempersiapkan kematian kita dengan berdo’a “bismika allahumma ahya wa bismika amut” – Ya Allah, dengan namamu aku menjalani hidup dan dengan namamu pula malam ini aku mau mati. Kita tidak lagi mampu menguasai tubuh ini, jiwa yang tenang karena amal saleh menjadikan suasana kematian dalam tidur kita terasa damai, bahkan tidak jarang mimpi indah mengisinya. Tradisi para nabi tentang “mimpi yang benar” yang datang dari Allah Ta’ala-pun mungkin sekali menghiasi tidurnya jiwa yang damai. Ya Allah, aku serahkan diriku kepada-Mu, malam ini aku memasuki alam kematian. Terimalah semua amalku, dan ampunilah dosa-dosaku. Begitu bangun tidur, Rasulullah s.a.w. mengajarkan do’a “alhamdulillah, alladzi ahyana, ba’da amatana, wa ilaihinnusur” – Segala puji bagi-Mu ya Allah, yang telah menghidupkan kembali diriku setelah kematianku, dan hanya kepada-Mu nantinya kami semua akan berpulang.
 
Dan Karena rahmat-Nya, dia jadikan untukmu malam dan siang, supaya kamu beristirahat pada malam itu dan supaya kamu mencari sebahagian dari karunia-Nya (pada siang hari) dan agar kamu bersyukur kepada-Nya. (QS 28:73)
Begitulah suasana syukur yang seharusnya kita bangun, syukur setelah merasakan kematian yang indah, syukur setelah menjalani kehidupan beramal saleh. Praktek syukur dengan membelanjakan sebagian harta kita untuk menyantuni anak-anak yatim dan orang-orang miskin, sudahkah anda jalankan, insya Allah.
Dalam sebuah riwayat dari negeri Mesir, tersiar kematian seorang tokoh besar yang bernama Dzunnun Al-Mishri atau Dzunnun si Orang Mesir. Sepanjang hidupnya lebih banyak dicela, dicemooh dan dihina karena ia dianggap kafir, ahli bid’ah dan orang murtad. Ia tidak pernah membalas semua tuduhan itu dengan kemarahan, apalagi serangan balik. Ia bahkan menunjukkan dirinya seolah-olah menerima tuduhan itu. Sepanjang hidupnya, orang-orang tidak mengetahui bahwa ia adalah salah satu diantara waliyullah, kekasih Allah. Mereka baru mengetahui setelah Dzunnun meninggal dunia. Dikisahkan menurut Al-Hujwiri, pada malam kematiannya, tujuh puluh orang bermimpi melihat Rasulullah s.a.w dan Beliaupun bersabda “Aku datang menemui Dzunnun, sang wali Allah”. Ada banyak kisah tentang Dzunnun yang hampir semua kisah hidupnya menjadi pelajaran yang amat berharga. Salah satu diantaranya adalah kisah ketika ia berperahu bersama sejumlah muridnya menyusur Sungai Nil.
Alkisah, diatas Sungai Nil yang indah, terdapat banyak orang-orang berperahu untuk melancong. Salah satunya adalah sekelompok anak muda yang kelewat riang gembira dengan bermusik melintas bertemu dengan perahu Dzunnun. Dua pemandangan kontraspun terlihat dari satu perahu yang “santun” dan satu perahu lainnya yang “berhura-hura, berteriak-teriak” dan berperilaku kelewatan menjengkelkan. Para murid Dzunnun-pun berharap pada sang guru  yang diijabahi do’anya untuk berdo’a agar Allah Ta’ala menenggelamkan saja perahu pemuda-pemuda itu. Kemudian Dzunnun mengangkat kedua tangannya seraya berdo’a “Ya Allah sebagaimana Engkau telah memberi orang-orang itu kehiduppan yang menyenangkan di dunia ini, maka beri jugalah mereka kehiduppan yang menyenangkan di akhirat kelak”. Para muridpun terkejut memdengar do’a Dzunnun, bukannya mendo’akan agar ditimpa masalah namun justru agar Allah memberi kebaikkan kepada mereka. Tak berapa lama, sesaat ketika dua perahu berpapasan, para pemuda itu melihat bahwa Dzunnun berada disana. Serentak sontak, mereka menghentikan perilakunya, dan meminta maaf serta bertaubat untuk tidak melakukannya lagi. Inilah pelajaran yang Dzunnun dapatkan bahwa kehiduppan yang menyenangkan di akhirat kelak adalah bertaubat di dunia ini. Dengan cara seperti ini maka para murid dan para pemuda itu merasa puas tanpa ada yang merasa dirugikan.
Dzunnun telah melanjutkan tradisi para Rasul Allah yang mengajari kita untuk membalas keburukkan yang dilakukan orang lain kepada kita dengan kebaikkan. Oleh karena itu hendaknya kita selalu berdo’a hal yang baik ketika kita memperoleh keburukkan dari orang lain seperti “Ya Allah, ubahlah kebencian musuh-musuhku menjadi kasih sayang”. Dengan cara ini maka kita telah memberi manfaat kepada semua orang, sama seperti do’anya Dzunnun al-Mishri. Kisah para nabipun demikian, Nabi Isa a.s. selalu berdo’a akan hal yang baik, meskipun saat itu ia harus menerima lemparan batu. Murid-muridnya pun bertanya “Mereka melempari batu ke arahmu, tetapi mengapa engkau membalas dengan do’a yang baik?”. Nabi Isa a.s. menjawab “Itulah bedanya kita dengan mereka. Mereka kirimkan kepada kita keburukkan dan kita kirimkan kepada mereka kebaikkan”.  Demikian pula halnya dengan nabi Muhammad Rasulullah s.a.w. dilempari batu di Thaif hingga berlumuran darah ketika beliau mengajak mereka menerima Islam. Pada saat malaikat datang kepadanya yang menawarkan untuk menimpakan gunung yang berada di atas orang-orang yang menyerangnya, nabipun berdo’a “Ya Allah, berilah petunjuk kepada kaumku karena mereka adalah orang-orang yang tidak mengerti”.
Kisah-kisah di atas telah memberi pelajaran berharga mengenai tradisi para nabi dan orang-orang saleh, yakni: membalas keburukkan dengan kebaikkan. “Ahsin kama ahsanallahu ilaik” – berbuatlah baik sebagaimana Allah berbuat baik kepadamu.
Marilah kita berdo’a bersama Imam Ali Zainal Abidin seorang keluarga Nabi Besar Rasulullah s.a.w. (Shahifah Sajjadiyah, Du’a 20:9):

Ya Allah, sampaikan shalawat kepada Muhammad dan keluarganya. Bimbinglah daku untuk: melawan orang yang mengkhianatiku dengan kesetiaan; membalas orang yang mengabaikkanku dengan kebajikkan; memberi orang yang bakhil kepadaku dengan pengorbanan; menyambut orang yang memusuhiku dengan kasih-sayang; menentang orang yang menggunjingku dengan pujian; berterima kasih atas kebaikkan dengan menutup mata dari keburukkan.
Ya Allah, sampaikan shalawat kepada Muhammad dan keluarganya.
Hiasilah kepribadianku dengan hiasan para shalihin. Berilah aku busana kaum mutaqin dengan: menyebarkan keadilan; menahan kemarahan; meredam kebencian; mempersatukan perpecahan; mendamaikan pertengkaran; menyiarkan kebaikkan; menyembunyikan keburukkan; memelihara kelemah-lembutan; memiliki kerendahan hati; berperilaku yang baik; memegang tegung pendirian; menyenangkan dalam pergaulan; bersegeralah melakukan kebaikkan; meninggalkan kecaman; memberi kepada yang tidak berhak; berbicara yang benar walaupun berat; menganggap sedikit kebaikkan walaupun banyak dalam ucapan dan perbuatan; menganggap banyak keburukkan walaupun sedikit dalam ucapan dan perbuatan.

Sabtu, 23 Juni 2012

SADEWA

Sadewa  atau  sahadewa  yang  dalam  pedalangan  Jawa  disebut  pula  dengan  nama Tangsen (buah  dari tumbuh-tumbuhan  yang daunnya  dapat dipergunakan  dan dipakai  untuk obat) adalah  putra  ke-lima/bungsu  Prabu Pandudewanata, raja Negara Astina  dengan  permaisuri Dewi Madrim, putrid Prabu Mandrapati  dengan Dewi Tejawati  dari  Negara mandaraka.  Ia  lahir  kembar  bersama kakaknya, Nakula.  Sadewa  juga  mempunyai  tiga orang saudara  satu  ayah, putra Prabu Pandu  dengan  Dewi Kunti  dari Negara Mandura,  bernama  : Puntadewa, Bima, dan Arjuna.
Nama Sadewa  tersusun  dari  lafazh  Sa, de, dan wa.Sa kependekan  dai  Sangu  artinya  bekal, de kependekan  dari  kata  gede  artinya  besar  atau banyak  dan wa  kependekan  dari kata dawa artinya panjang  atau lama. Jadi  Sadewa  mengisyaratkan  kepada  ibadah Haji  sebagai  Rukun Islam kelima, karena  kewajiban  ibadah  ini  membutuhkan  persyaratan  bekal  yang  besar  dan  banyak  untuk  waktu  yang  lama  atau panjang. Oleh  karena  itu  nama lain  dari  Sadewa  adalah Tangsen. Tangsen  berasal  dari  kata Tang maksudnya ketang  artinya meskipun dan  sen  maksudnya  sak sen  artinya  satu sen. Hal ini  sesuai  dengan  firman Allah SWT yang artinya:
Ibadah  Haji  dilakukan  dalam  bulan-bulan  yang telah dimaklumi, maka siapa saja  yang  memutuskan  untuk  menjalankan  ibadah  Haji  dalam  bulan-bulan  itu, janganlah  berbicara kotor , dan jangan pula  mencaci maki  dan jangan pula  bertengkar  pada waktu  Haji. Dan kebajikan  apa saja  yang kamu kerjakan, Allah mengetahui  itu. Dan  bawalah  bekal dan  sesungguhnya  bekal  yang  paling  baik  ialah  menjaga diri  dari kejahatan. Dan, bertakwalah kepada-Ku, wahai  orang-orang  yang  mempunyai akal. (Al Baqarah, 2 : 198)
Sadewa  adalah  titisan  Bathara Aswin, Dewa Tabib. Sadewa  sangat mahir  dalam  ilmu kasidan (Jawa)/seorang mistikus.  Mahir menunggang kuda  dan  menggunakan  senjata  panah dan lembing.  Hal ini  juga mengisyaratkan  kepada ibadah Haji,  dengan penjelasan  bahwa Bathara  artinya  Nabi, Aswin  artinya  sempurna. Jadi  Haji merupakan  sunnah Rasulullah  SAW  sebagai  Rukun  Islam  yang  paripurna  sebagaimana Sabda  Rasulullah SAW  berikut  :
Hakikat Islam  ialah  engkau  bersaksi  tidak  ada  Tuhan  kecuali  Allah  dan Muhammad  Shallallahu’alaihi  wa sallam  adalah  Utusan Allah, engkau menegakkan  shalat,  memberikan zakat, berpuasa Ramadhan, dan menunaikan  Haji ke Baitullah, jika engkau  mampu  kesana (Muslim, Abu Daud, At-Turmudzi, dan  An Nasai dari Umar radhiyallaahu’anhu dan Kanzul-Ummal, Juz I/18)
Sadewa  tinggal  di Ksatrian  Bawenatalun/Bumi-retawu,wilayah Negara Amarta. Hal ini juga  mengisyaratkan  ibadah Haji juga.  Cobalah  perhatikan uraian  berikut   :  Ksatrian Bawenatalun atau Bumi retawu menunjuk  kepada tempat ibadah haji, dengan penjelasan demikian, Bawena  artinya tanah  dan Talun  artinya  bebas  dari polusi (suci). Jadi, Bawenatalun  itu  menunjuk  kepada  tanah suci kota Mekkah. Demikian pula  Bumiretawu  juga  menunjuk  kepada  indikasi  kota  Mekkah  dengan  penjelasan  bahwa  Bumi  artinya tanah  dan Ratawu artinya  pasir. Jadi kota Mekkah itu  adalah  bagian  dari  Negara  Saudi  Arabia  yang  tanahnya  banyak  mengandung  pasir.
Sadewa  menikah  dengan  Dewi  Srengginiwati, adik Dewi Srengganawati (istri Nakula), putri  Resi  Padawanganala, kura-kura  raksasa  yang tinggal  di  sungai  atau  narmada  Wailu (menurut Purwacarita, Badawanganala  dikenal  sebagai  raja  Negara  Gisiksamodra/Ekapratala). Dari perkawinan  tersebut ia memperoleh  seorang  putra  bernama Bambang Widapaksa  atau Sidapaksa).  Hal  ini  juga mengisyaratkan   kepada  pelaksanaan Ibadah  Haji dengan  uraian  bahwa  Dewi artinya  keruhanian, Srenggi  artinya  luhur, ni  maksudnya  niki  artinya ini dan Wati  artinya  memikat.  Jadi  Ibadah  haji  ini adalah  merupakan  ajaran  luhur  dan  memikat,  sedangkan  Resi  Badawanangala  menunjukkan  bahwa  Resi  artinya  ulama, Badawanga  artinya tulus dan  nala  artinya hati.  Jadi  Resi  Badawanganala  itu  bermakna  ulama  yang tulus  hati,  sedangkan  Bambang  artinya  bahagia,  Wida  artinya  berlebihan  dan Paksa  artinya  harus  atau  wajib.  Jadi, jika mendapat  karunia kebahagiaan (aman/tenteram) dan  berlebihan  rezeki, pergi  Haji  harus  atau  wajib segera  dilaksanakan.  Hal ini  sesuai  dengan  firman Allah SWT  yang artinya:
Dan  lakukanlah  dengan  sempurna  ibadah  Haji  dan Umrah  karena  Allah.  Tetapi  jika  kamu  terhalang, maka  kirimlah  korban  apa  saja  yang  mudah  didapat dan  janganlah  kamu  mencukur  kepala kamu  sampai  korban  itu sampai di  tempat tujuan. Lalu  barang siapa  di antara kamu sakit  atau  mempunyai  penyakit  di  kepalanya,  ia  diperbolehkan  membayar  denda  berupa puasa  atau  sedekah  atau  korban.  Dan, apabila  kamu aman, maka  barang siapa  mengambil  keuntungan dengan  menggabungkan Umrah  dengan Haji  ia  harus  memberi  korban apa saja  yang  mudah  didapat.  Tetapi  barangsiapa  tidak  menemukan  korban, maka berpuasalah  tiga hari selama  waktu haji  dan tujuh  hari  lagi  setelah  kamu pulang. Inilah  sepuluh  hari  penuh.  Ini  bagi  orang  yang  keluarganya  tidak  berada  di  masjid Suci.  Dan  bertaqwalah  kepada Allah, dan ketahuilah  bahwa  Allah  itu  keras  sekali pembalasannya (Al Baqarah,2 :197)
Di dalamnya  adalah  bukti yang terang yaitu tempat  Ibrahim ; dan  siapa  yang memasuki  itu ia akan aman ; Ibadah  Haji ke rumah itu  adalah  wajib  bagi manusi  karena Allah, (bagi)  orang-orang  yang  mampu mengadakan perjalanan  kesana.  Dan,  siapa kafir, maka  sesungguhnya  Allah  itu  Maha  kaya, tidak  memerlukan  sesuatu  dari  sekalian alam (Ali Imran, 3 : 98)
Dengan  melaksanakan Kelima  Rukun Islam  yaitu : Syahadat, Shalat, Puasa, Zakat  dan Haji  yang  mabrur  diharapkan orang  mukmin  tersebut  menjadi hamba Allah  yang  suci  bersih  dari  segala  macam  dosa  seperti  ketika  ia  dilahirkan  ibunya  sehingga  ia pantas  untuk mendapatkan  Karunia  Surga,  sebagaimana  sabda Rasulullah  SAW  berikut  :
Apabila  seorang  pergi Haji  meninggalkan  keluarganya,  lalu  ia  berjalan  selama  3 hari  atau 3 malam, maka ia  keluar  dari  dosa-dosanya  seperti hari  sewaktu  ibunya  melahirkannya  dan  semua  hari-harinya  sebagai  derajat ;  dan  siapa  yang  mengkafani  seorang  jenazah, Allah  memakaikan  kepadanya  satu  pakaian  dari  surga  ; dan siapa  yang memandikan seorang  jenazah  ia  telah  keluar  dari  dosa-dosanya;  dan siapa  yang  menumpahkan tanah  atasnya  di kuburnya,  maka  baginya  setiap  debu  akan  menambah  berat  timbangannya melebihi  beratnya  gunung. (Al-Baihaqi  dari  Abu Dzar RA  dan Kanzul-Ummal, Juz V/11825)
Sesungguhnya  Allah  Ta’ala  menurunkan  dalam  senng thawaftiap  hari  seratus  Rahmat,  enam puluh  dari  itu kepada  orang-orang  yang thawaf  di  rumah  Ka’bah itu,  dua puluh  untuk  penduduk Mekkah dan dua puluh  untuk  manusia  lainnya (Al Khatib dalam  At-Tarikh dari  Ibnu  Abbas  RA  dan  Kanzul-Ummal,Juz V/12018)
Di antara  indikasi  ibadah  Haji  yang mabrur  ialah  apabila  pelakunya  setelah  selesai  menunaikan  ibadah Haji  kata-kata  yang  keluar  dari mulutnya  senantiasa  baik  dan  taat kepada Allah  dan Rasul-Nya tanpa  dikotori  kefasikan  seperti  ucapan-ucapan  yang dikumandangkan  waktu  ibadah  Haji, sebagaimana  firman  Allah SWT  dan  sabda Rasulullah SAW  berikut  :
Ibadah  Haji  dilakukan  dalam  bulan-bulan  yang  telah dimaklumi ; maka  siapa  saja  yang memutuskan  untuk  menjalankan  ibadah  Haji dalam bulan-bulan  itu, janganlah berbicara  kotor, dan jangan pula mencaci-maki  dan jangan  pula  bertengkar pada waktu  Haji.  Dan kebajikan apa saja  yang  kamu kerjakan, Allah mengetahui itu. Dan, bawalah  bekal dan sesungguhnya  bekal  yang paling baik  ialah  menjaga  diri  dari kejahatan. Dan, bertaqwalah  kepada-Ku, wahai  orang-orang  yang mempunyai akal (Al Baqarah, 2 : 198)
Siapa  yang menunaikan ibadah Haji karena Allah, dan ia tidak  berbicara  kotor  dan tidak fasiq, maka ia kembali  seperti  hari  sewaktu  ibunya melahirkannya (Ahmad bin Hanbal  dalam Musnadnya, An-Nasai, Ibnu Majah dari Abu Hurairah RA  dan Kanzul-Ummal, Juz V/11808)
Aku sambut panggilan-Mu  dan setia siap  menerima perintah-Mu, wahai Allah  aku  sambut panggilan-Mu dan dengan  setia  siap  menerima  perintah-Mu ; aku sambut panggilan-Mu  dan dengan setia  siap menerima perintah-Mu; sesungguhnya pujian,  kenikmatan, kekuasaan adalah milik-Mu, tidak ada  sekutu bagi-Mu (Ahmad bin Hanbal dalam Musnadnya, An-Nasai  dari  Ibnu Umar RA ; Ahmad bin Hanbal dalam Musnadnya  dari Ibnu Abbas  RA ;Abu Ya’la  dalam Musnadnya, Ath-Thabrani  dalam Al Kabir  dari  Amer bin Ma’di  Karib RA  dan Kanzul-Ummal, Juz V /11908)

Jibril telah mendatangiku, lalu berkata  kepadaku : Sesungguhnya Allah  menyuruh  kamu  agar  kamu  menyuruh  sahabat-sahabatmu  mengangkat  suara  mereka  dengan talbiyah, karena  itu  termasuk syiar Haji (Ahmad bin Hanbal dalam Musnadnya, Ibnu Majah, Al Hakim  dalam Al-Mustadrak, Ibnu Hibban  dalam Shahihnya  dari Zaid bin  Khalid RA  dan Kanzul-Ummal, Juz V /11911)
Sesungguhnya  musuh Allah adalah Iblis, tatkala ia mengetahui  bahwa Allah telah  mengabulkan doaku  dan mengampuni umatku. Maka  ia  mengambil tanah  lalu  ia menumpahkan  di atas kepalanya ; lalu  ia memanggil  kecelakaan dan kebinasaan, maka itu menjadikan aku tertawa  terhadap apa yang aku lihat dari kegelisahannya (Ahmad bin Hanbal dalam Musnadnya  dari Ibnu Abbas  bin Mardas RA  dan Kanzul-Ummal, Juz V/11809)
Selain  sangat sakti, Sadewa  juga memiliki  Aji Purnamajati pemberian Empu Ditya Sapulebu, Senapati Negara Mretani  yang  berkhasiat  dapat mengerti  dan  mengingat  dengan jelas pada semua peristiwa. Sadewa  mempunyai  watak jujur, setia, taat, belas kasih, tahu membalas  guna  dan dapat menyimpan  rahasia.  Hal ini juga  memperjelas isyarat Ibadah Haji. Demikian uraiannya : Aji berarti berharga, Purnama  artinya  bulan indah, jati artinya sejati. Jadi  bulan  Haji  merupakan  bulan  berharga dan  bulan  indah sejati. Sedangkan  Ditya  artinya lebih, sapu  artinya  pembersih  secara ruhani  adalah  keimanan dan ketaqwaan,  Lebu  artinya Debu. Jadi  dengan  keimanan dan ketaqwaan   yang  lebih  dapat  membersihkan  debu  atau  kotoran  ruhani,  sedangkan  Mreta  artinya  yang  menghidupkan  dan ni maksudnya  niki  atau  ini.  Jadi,  ibadah  Haji  yang  dilaksanakan karena  keimanan dan ketaqwaan  ini  akan  menghidupkan  ruhani.

Ditulis oleh: Drs. Abdul Rozaq
Judul asli: Sadewa Indikasi Haji

Kamis, 21 Juni 2012

PERBEDAAN KEYAKINAN


Mengapa keyakinan manusia demikian berbeda antara satu dengan lainnya? Jawabannya oleh karena mereka dibesarkan oleh lingkungan yang berbeda. Semua pengalaman manusia disimpan di dalam pusat memori di limbic system dalam bentuk folder yang sifatnya sangat individual. Tidak mengherankan jika Nabi Muhammad s.a.w mengingatkan bahwa seseorang menjadi Islam, Kristen, Yahudi atau Majusi (penyembah api) tergantung dimana mereka diasuh dan dibesarkan. Anak seorang Islam cenderung menjadi Islam, Anak seorang Kristen akan menjadi Kristen, dan seterusnya.

Seorang anak dari sebagian besar (mayoritas) keluarga Muslim setiap saat mendengar cerita dari orang tua atau gurunya atau seorang ustad, bahwa Nabi Adam a.s adalah manusia pertama yang diciptakan Allah, diberikan istri yang diciptakan dari tulang rusuknya, ditempatkan di surga (jannah), keduanya melanggar larangan untuk tidak memakan buah khuldi, dan akhirnya dibuang ke bumi. Keduanya terpisah dengan jarak yang cukup jauh, satu di Ceylon (Srilanka) dan yang lainnya di Jazirah Irak.

Kisah terpisahnya Adam a.s dan istrinya sungguh sangat sentimental. Keduanya terpisah dan berkelana selama 200 tahun, dipertemukan Tuhan di Jabal Rahmah. Jika kisah yang tidak masuk akal ini memang benar-benar terjadi betapa berat tekanan (depresi) yang harus mereka hadapi karena hidup tanpa teman selama itu. Apakah mungkin? Akal sehat manusia pasti mengatakan tidak mungkin.

Akan tetapi, limbic manusia selalu mengatakan, ’apapun bisa terjadi karena kuasa Tuhan’. Tidak mengherankan jika Jabal Rahmah menjadi salah satu tempat yang ’laris’ dikunjungi oleh para jemaah haji. Rendez-vous Adam a.s dan Hawa di Jabal Rahmah sudah merupakan mitos kebanyakan umat Islam.

Memang sebuah mitos tidak membutuhkan pembuktian dan tidak memerlukan akal sehat. Kisah Sangkuriang dari Tatar Sunda, tepatnya dari daerah Parahiyangan sudah menjadi legenda yang dipercaya kebenarannya oleh masyarakat. Konon kabarnya, Sangkuriang, adalah seorang ksatria yang sakti merupakan anak seorang putri bernama Nyi Dayang Sumbi - bersuamikan seekor anjing bernama Tumang. Mitos dan legenda semacam inilah yang pada masa lalu sering dijadikan cerita sebelum tidur (dongeng ba’da Isya) oleh para orang tua kepada anak-anaknya. Karena ’folder’ memori anak-anak masih kosong, maka cerita-cerita tersebut akan mudah tersimpan di dalam limbic nya. Demikian juga kisah Nabi Adam a.s yang dikarenakan demikian kerapnya diceritakan kepada anak-anak Muslim, maka sebagian besar dari umat Islam mengenal Adam a.s sebagai manusia pertama yang diciptakan di surga, dan karena dosa-dosanya dibuang ke bumi.
Berbeda dengan kebanyakan anak mayoritas Muslim, anak seorang Kristiani atau Yahudi mendapatkan informasi lain. Orang tua atau guru atau para pastor, pendeta dan para rabi mengatakan bahwa nenek moyang umat manusia adalah Adam a.s.  Mudah dipahami bahwa Adam a.s yang dimaksud oleh orang Kristen maupun Yahudi adalah Nabi Adam a.s yang dimaksud oleh orang Islam, karena alur cerita dan tokoh-tokohnya sama. Menurut pandangan mayoritas umat Kristen, Adam a.s diciptakan Tuhan di bumi, tepatnya di Taman Eden, yaitu pada hari keenam setelah bumi diciptakan-Nya. Karena Tuhan merasa iba dengan kesendiriannya ia diberikan seorang istri bernama Hawa yang diciptakan dari tulang rusuknya, kemudian keduanya memakan buah larangan, dan selanjutnya diusir dari Taman Eden.

Agar perbedaan pandangan antara mayoritas penganut kedua kelompok agama   tersebut mudah dipahami maka keduanya dirinci di dalam Tabel 1 di bawah.

Tabel 1. Perbedaan Pandangan Tentang Adam Kristen vs Islam

Kristen
Mayoritas Islam

  1. Manusia pertama diciptakan Tuhan, hanya enam hari setelah bumi diciptakan
  2. Tinggal di Taman Eden, di bumi.
  1. Ditemani istrinya yang bernama Hawa
  1. Hawa diciptakan dari salah satu tulang rusuknya
  2. Digoda ular untuk memakan buah larangan
  3. Memakan buah larangan (apel)
  4. Mengakibatkan dosa turunan, yang hanya mungkin dihapus oleh kematian Jesus a.s di kayu salib
  5. Diusir dari Taman Eden



  1. Manusia pertama diciptakan Allah, waktunya tidak disebutkan.
  1. Tinggal di jannah (ditafsirkan sebagai surga)
  2. Ditemani isitrinya (nama istrinya tidak disebutkan, tapi dipercayai bernama Hawa)
  3. Istrinya diciptakan dari salah satu tulang rusuknya
  4. Digoda setan untuk mendekati pohon larangan (syajarah)
  5. Memakan buah khuldi
  6. Berdosa, namun bertobat dan dimaafkan Tuhan
  1. Diturunkan ke bumi.

Nomor satu (1) pada Tabel 1 di atas menunjukkan bahwa pandangan agama Kristen dan mayoritas Islam tidak berbeda, kecuali di dalam Kitab Bible secara eksplisit dinyatakan bahwa Adam a.s diciptakan pada hari keenam saat Tuhan menciptakan bumi beserta isinya (Kitab Kejadian 1:26). Al-Qur’an tidak secara eksplisit menyatakan bahwa Adam a.s adalah manusia pertama, namun arus utama umat Islam mempercayai hal ini sama dengan umat Kristen. Keyakinan bahwa Adam a.s adalah manusia pertama untuk penganut agama Kristen merupakan pokok ajaran yang sangat fundamental. Artinya, benar atau salahnya keyakinan tersebut tergantung benar atau tidaknya pernyataan bahwa Adam a.s adalah manusia pertama. Hal ini diakui oleh John Morris, Presiden Institute for Creation Research[1]):

“If evolution is right, if the earth is old, if fossils date from before man’s sin (Adam), then Christianity is wrong”

Artinya, jika teori evolusi yang mengatakan bahwa bumi berumur berjuta-juta tahun (bahkan bermilyar tahun) itu benar, dan jika fosil-fosil yang sering kita lihat di museum berumur lebih tua dari Adam a.s (yang notabene baru berumur 6000 tahun), maka dapat disimpulkan bahwa Adam a.s pasti bukan manusia pertama. Selanjutnya, jika Adam a.s bukan manusia pertama maka doktrin dosa turunan sangat diragukan. Jika dosa turunan tidak ada maka tidak diperlukan penebusan dosa. Jika tidak ada penebusan dosa maka dapat dipastikan bahwa agama Kristen salah!

Uniknya, John Morris masih sangat yakin bahwa fosil dinosaurus dan fosil minyak bumi lebih muda dari 6000 tahun. Kitab kejadian menyatakan bahwa bumi dan alam semesta dijadikan hanya dalam waktu enam hari[2]), dan Adam diciptakan pada hari ke enam. Artinya, umur bumi hanya berselisih enam hari dibandingkan umur Adam a.s.

Nomor dua (2) sangat berbeda, di dalam Bible secara eksplisit tertulis bahwa Adam a.s tinggal di bumi ini, lokasinya di Taman Eden yang terletak di perpotongan sungai Pison, Havilah, Hiddekel, dan Euphrat (Kitab Kejadian 2:8 dan 2:11-14). Al-Qur’an secara eksplisit menyatakan bahwa Allah akan menjadikan seorang khalifah di bumi – bukan manusia pertama!

”... Sesungguhnya Aku akan menjadikan seorang khalifah di muka bumi (Surah Al-Baqarah; 2:30).

Kalau ayat tersebut berhubungan dengan penciptaan manusia pertama Al-Qur’an tentunya tidak akan menyebut dengan kata khalifah. Khalifah dalam konteks wakil Tuhan di dalam Surah Al-Baqarah 2:30 berarti nabi. Artinya, Tuhan akan mengangkat seorang nabi untuk umat yang hidup di kawasan tersebut.

Namun karena di dalam ayat berikutnya dikatakan:  ” .... Hai Adam, tinggalah kamu dan istrimu di jannah ......” (Surah Al-Baqarah; 2:35), . . . . . maka, sebagian besar ulama dan penafsir Al-Qur’an menginterpretasikan seolah-olah Adam a.s diciptakan di jannah – diartikan sebagai surga akhirat. Kebanyakan mufasirin (ahli tafsir) dan ulama Islam tidak mempertanyakan apa sesunguhnya arti kata jannah karena mereka sudah mengasumsikan bahwa Adam a.s adalah manusia pertama yang diciptakan langsung melalui mantera kun fayaa kun di samping Tuhan. Mereka juga berasumsi bahwa Tuhan adalah semacam seorang raja dengan singgasananya yang megah di jannah. Mereka tidak pernah berpikir bahwa kata jannah mungkin hanya sebuah simbol?

Nomor ketiga (3) sedikit berbeda, Bible secara tegas menuliskan bahwa istri Adam a.s bernama Hawa yang di dalam bahasa Iberani berarti wanita (Kitab Kejadian 2:23 dan 3:20), namun di dalam Al-Qur’an tidak ada satu ayatpun yang menyebutkan nama itu. Bahkan semua hadis shahih tidak pernah meriwayatkan secara eksplisit bahwa istri Nabi Adam a.s bernama Hawa. Nampaknya pengaruh kabilah Yahudi dan Kristen yang tinggal di jazirah Arab jauh sebelum kelahiran Nabi Muhammad s.a.w mengakibatkan umat Islam mengadopsi nama Hawa.

Nomor empat (4), tercantum di dalam Bible bahwa Hawa diciptakan dari tulang rusuk Adam a.s  (Kitab Kejadian 2:22). Al-Qur’an tidak menyatakan secara eksplisit.

Nomor lima (5), keduanya berbeda. Ayat-ayat Bible yang dipercayai oleh para gerejawan harus dibaca dan diartikan secara literal mengatakan bahwa ular adalah binatang yang memperdayai Adam a.s dan Hawa memakan buah larangan. Dikatakan pula bahwa ular adalah paling cerdas di Taman Eden (Kitab Kejadian 3:1). Di dalam Al-Qur’an dikatakan bahwa makhluk yang menjerumuskan Adam a.s dan istrinya untuk mendekati pohon larangan adalah setan:

”Lalu setan menggelincirkan keduanya (Adam dan istrinya) dari jannah itu ...” (Surah Al-Baqarah; 2: 36).

Nomor enam (6), relatif sama, yaitu keduanya tidak diperkenankan untuk mendekati pohon larangan. Di dalam Al-Qur’an disebut sebagai syajarah (Surah Al-Baqarah; 2:35). Di dalam Bible keduanya dilarang memakan buah dari pohon yang terletak ditengah Taman Eden (Kitab Kejadian 3:3). Umat Kristen berpendapat bahwa buah yang dimakan Adam a.s dan istrinya adalah pohon apel, sedangkan Al-Qur’an menyatakan sebagai pohon khuldi:

”.... Oh Adam, haruskah aku menunjukkan padamu pohon khuldi dan kerajaan yang tak pernah hancur”? (Surah Thaahaa; 20:120). Khuldi dalam bahasa Indonesia berarti keabadian.

Nomor tujuh (7), sepakat bahwa akibat perbuatan memakan buah larangan keduanya berdosa. Walaupun di dalam Bible tidak disebutkan secara eksplisit tentang dosa turunan (Kitab Kejadian 3:15-19), namun istilah ini dipercayai sebagai salah satu dogma terpenting diantara dua dogma utama agama Kristen. Al-Qur’an secara spesifik mengatakan bahwa perbuatan Adam a.s dan istrinya sebagai dosa bahkan disebut sebagai perbuatan sesat:

”Lalu keduanya memakan (buah pohon itu) maka kelihatanlah auratnya. Dan keduanya mulai menutupi dari daun-daun surga (waraqil jannati). Dan Adam melanggar perintah Tuhannya lalu dia sesat” (Surah Thaahaa; 20:121).

Kemudian Tuhan menerima taubatnya sebagaimana disebutkan di dalam Surah Thaahaa (20: 122) dan Al-Baqarah (2:37):

”Maka Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, lalu Allah memberi ampun kepadanya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat lagi penyayang”.

Akhir dari episode pertentangan antara Adam a.s dengan setan dan iblis adalah ketika beliau diperintahkan oleh Allah untuk meninggalkan jannah atau Taman Firdaus:

”Kami berfirman, ’Turunlah kamu semuanya dari jannah itu! ......... (Surah Al-Baqarah 2: 38).

Ayat Surah Al-Baqarah (2:38) ini menurut sebagian besar penafsir seolah-olah merupakan pengusiran Adam a.s dari jannah. Dalam mitos Kristen kejadian ini disebutkan sebagai pengusiran dari Taman Firdaus  (the expulsion from Paradise/Garden of Eden).

Sumber referensi: Agama Yang Membebaskan
Ditulis oleh: DR Soekmana Soma



[1]) Alters J Brian and Sandra M Alters. 2001. Defending Evolution. A Guide to the creation vs evolution controversy. Jones and Barlett Publishers, Sudbury, Massachussets.

[2]) Lihat Kitab Kejadian (1:5), satu hari (dalam Bahasa Hebrew adalah Yom) menurut The Ryrie Study Bible dan the Defenders Study Bible adalah 24 jam.